Pemupukan susulan pertama diberikan saat tanaman memasuki fase vegetatif awal pada umur 10 sampai 15 hari setelah tanam (HST). Tanaman kacang tanah mampu mengikat nitrogen sendiri melalui simbiosinya dengan bakteri Rhizobium pada bintil akar, sehingga pupuk nitrogen hanya diberikan dalam jumlah sedikit sebagai starter. Aplikasikan pupuk dasar NPK dengan dosis sekitar 50 hingga 75 kg per hektar atau kombinasi SP-36 sebanyak 75 kg per hektar dan KCl sebanyak 50 kg per hektar. Buat larikan kecil sejauh 5 cm dari pangkal batang, alurkan pupuk, lalu tutup kembali dengan tanah.
Pemupukan susulan kedua dilakukan pada fase generatif atau pembungaan awal, tepatnya pada umur 25 sampai 30 HST saat ginofor (bakal buah) mulai tumbuh menjulur ke dalam tanah. Pada fase ini, kebutuhan unsur Kalsium (Ca) dan Kalium (K) sangat tinggi untuk pembentukan cangkang dan pengisian biji. Taburkan gipsum atau tambahan kapur dolomit sebanyak 150 hingga 200 kg per hektar di sekitar barisan tanaman, kemudian lanjutkan dengan kegiatan pembumbunan tanah agar ginofor mudah menembus tanah dan menyerap kalsium secara langsung.
Penyesuaian pola pemupukan sangat bergantung pada kondisi iklim dan musim penanaman di Indonesia. Pada musim hujan, buat saluran drainase yang baik dengan kedalaman 20 sampai 30 cm agar air tidak menggenang yang dapat memicu pembusukan bintil akar dan pencucian hara. Sebaliknya, pada musim kemarau, lakukan penyiraman secara berkala setiap 3 sampai 5 hari sekali terutama setelah aplikasi pupuk susulan agar unsur hara terlarut sempurna dan dapat diserap oleh sistem perakaran tanaman.





