Pada bagian atas tanah, hama foliar seperti ulat grayak dan kutu daun sering menjadi masalah utama. Ulat grayak mampu menghabiskan lamina daun hingga 80 persen dalam waktu beberapa hari jika tidak dikendalikan, sedangkan kutu daun mengisap cairan pucuk muda sekaligus menjadi vektor penyakit virus kerdil. Penurunan luas daun aktif sebesar 30 persen pada fase berbunga umur 20-35 HST dapat menurunkan hasil panen hingga 45 persen.
Di dalam tanah, gangguan berasal dari hama perusak akar dan polong seperti uret serta ulat penggerek polong. Uret memotong sistem perakaran pada kedalaman 5-15 cm dari permukaan tanah yang menyebabkan tanaman layu layaknya kekurangan air. Penggerek polong merusak polong muda yang sedang berkembang di umur 45-70 HST, meninggalkan polong hampa atau berlubang yang menurunkan mutu biji kacang.
Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) secara konsisten dapat menekan kerugian secara efisien. Praktik sanitasi lahan, rotasi tanaman dengan jagung atau padi selama 3-4 bulan, pembumbunan tanah setinggi 5-10 cm, serta penggunaan perangkap lampu atau perangkap kuning lengket terbukti menurunkan tingkat kerusakan hingga di bawah 10 persen.





