Penyakit bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora sorghi sering kali menjadi momok utama di lahan jagung dataran rendah hingga menengah saat musim penghujan. Gejala awalnya ditandai dengan garis-garis klorotik memanjang sejajar tulang daun yang berwarna putih kekuningan, sering kali disertai lapisan spora putih seperti tepung di permukaan bawah daun pada pagi hari yang berembun. Jika tidak segera ditangani, tanaman muda akan kerdil, daun menggulung, dan gagal membentuk tongkol sama sekali.
Selain bulai, penyakit bercak daun sercora dan hawar daun turcicum juga kerap menyerang tanaman jagung ketika intensitas hujan tinggi dan durasi penyinaran matahari berkurang. Hawar daun menimbulkan bercak berbentuk seperti gelendong atau椭ular memanjang berwarna cokelat keabuan yang dimulai dari daun terbawah dan merambat ke atas. Kehadiran penyakit ini menurunkan luas permukaan daun efektif untuk fotosintesis, sehingga pengisian biji pada tongkol menjadi tidak maksimal dan bobot pipilan turun drastis saat panen.
Untuk mengatasi berbagai serangan penyakit tersebut, pendekatan pencegahan terpadu jauh lebih efektif daripada tindakan kuratif setelah infeksi menyebar luas. Pengolahan tanah yang baik dengan pembuatan salurandrainase yang lancar untuk menghindari genangan air, penggunaan varietas tahan, serta pengaturan jarak tanam agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat menjadi kunci utama keberhasilan budidaya. Jika gejala mulai terlihat, lakukan sanitasi bagian tanaman yang terinfeksi dan konsultasikan dengan petugas penyuluh lapang di BPP setempat untuk pemilihan bahan pengendali yang tepat.