Memasuki fase vegetatif cepat pada umur 15 hingga 20 HST, tanaman jagung membutuhkan pasokan nitrogen tinggi untuk pembentukan daun hijau dan batang yang kokoh. Aplikasi pemupukan susulan pertama dilakukan dengan memberikan sekitar 150 kg Urea per hektar. Pemupukan wajib dilakukan dengan cara ditugal atau dibuat larikan sejauh 7-10 cm dari pangkal batang, lalu segera ditutup tanah halus agar unsur nitrogen tidak menguap ke udara.
Fase generatif awal pada umur 35 hingga 40 HST merupakan periode kritis pembentukan calon tongkol jagung. Pemupukan susulan kedua difokuskan pada penambahan nitrogen dan kalium, yaitu sekitar 100 kg Urea dan 50 kg KCl per hektar, guna memastikan pembentukan bunga jantan dan betina berjalan serentak. Pada musim hujan, pastikan pemupukan dilakukan saat tanah lembap namun tidak tergenang air agar nutrisi tidak hanyut terbawa erosi permukaan.
Pada fase pengisian bulir umur 50 hingga 60 HST, pemberian unsur hara mikro tambahan dapat dilakukan melalui penyemprotan pupuk daun untuk meningkatkan bobot dan rendemen biji. Penyemprotan dilakukan sebanyak 1 sampai 2 kali dengan interval 7 hari pada pagi hari sebelum jam 9 pagi saat stomata membuka. Dengan manajemen pemupukan yang terukur ini, potensi hasil panen jagung hibrida dapat mencapai 8 hingga 10 ton pipilan kering per hektar.





