Memasuki fase vegetatif awal pada umur 15 hingga 20 HST, tanaman jagung membutuhkan pasokan Nitrogen yang tinggi untuk memicu pembentukan daun dan batang yang kokoh. Pemupukan susulan pertama ini dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk Nitrogen dan NPK secara dilarik atau ditugal pada jarak 7 hingga 10 sentimeter dari pangkal batang. Pada musim hujan, lakukan pemupukan saat pagi hari ketika embun telah mengering agar butiran pupuk tidak menempel pada ketiak daun yang dapat menyebabkan pembusukan jaringan.
Fase vegetatif akhir menuju generatif pada umur 35 hingga 45 HST merupakan periode kritis kedua dalam pemupukan jagung. Pada fase ini, tanaman mempersiapkan pembentukan bunga jantan dan tongkol jagung. Berikan kombinasi pupuk Nitrogen dan pupuk Kalium untuk memastikan pengisian biji menjadi padat dan berbobot. Setelah pupuk dimasukkan ke dalam tanah, segera lakukan pembumbunan dengan menimbun tanah ke pangkal batang jagung untuk menutup pupuk sekaligus memperkuat perakaran tanaman.
Penyesuaian pemupukan berdasarkan musim sangat menentukan efisiensi hara di wilayah Indonesia. Pada musim kemarau dengan fasilitas irigasi, lakukan penyiraman sebanyak 1 hingga 2 kali seminggu segera setelah pemupukan agar pupuk cepat terlarut dan terserap akar. Sebaliknya, pada musim hujan tinggi, pastikan parit drainase bedengan berfungsi baik agar pupuk tidak terendam air yang memicu pencucian hara Nitrogen ke lapisan tanah bawah.