Penyiangan gulma sangat krusial pada periode kritis 15 hingga 45 hari setelah tanam agar jagung tidak berebut hara dengan rumput liar. Lakukan pembumbunan pertama bersamaan dengan penyiangan pada umur 20 hingga 25 hari setelah tanam dengan menimbun tanah di pangkal batang setinggi 10 hingga 15 cm. Pembumbunan kedua dilakukan pada umur 40 hingga 45 hari setelah tanam untuk memperkokoh perakaran jangkar dan mencegah tanaman rebah saat diterjang angin kencang.
Pengairan tanaman jagung harus disesuaikan dengan fase pertumbuhannya, terutama pada saat pembentukan bunga dan pengisian biji pada umur 45 hingga 65 hari setelah tanam. Tanaman jagung membutuhkan pasokan air sekitar 400 hingga 500 mm sepanjang siklus hidupnya, di mana kekurangan air pada fase pembungaan dapat menurunkan hasil panen hingga 50 persen. Di musim kemarau, alirkan air melalui parit di antara bedengan setiap 7 hingga 10 hari sekali hingga tanah cukup lembap tetapi tidak tergenang.
Memasuki fase generatif akhir pada umur 70 hingga 75 hari setelah tanam, lakukan pemangkasan daun bagian bawah yang sudah menguning atau tua di bawah tongkol utama. Langkah sanitasi ini meningkatkan sirkulasi udara, mengurangi kelembapan di sekitar kanopi tanaman, serta mengarahkan energi fotosintesis fokus pada pengisian biji di tongkol secara optimal.





