Selain ulat grayak, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) dan penggerek tongkol (Helicoverpa armigera) sering menyerang fase vegetatif akhir hingga generatif. Serangan penggerek batang ditandai dengan ditemukannya lubang kecokelatan pada batang yang menyebabkan tanaman gampang patah saat diterjang angin kencang di fase pembentukan tongkol.
Pada musim kemarau, hama hisap seperti kutu daun (Aphis maidis) dan wereng hijau sering melonjak populasinya. Serangga kecil ini mengisap cairan daun muda sehingga menyebabkan daun menggulung, kerdil, serta memicu pertumbuhan embun jelaga hitam yang menurunkan efisiensi fotosintesis hingga 30 persen.
Pengendalian hama jagung efektif dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memadukan pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu, pemanfaatan musuh alami, rotasi tanaman, serta penggunaan agen hayati atau insektisida secara bijak sesuai petunjuk teknis.