Pada musim kemarau, hama penusuk-penghisap seperti kutu daun (Aphis maidis) dan thrips cenderung mendominasi karena suhu udara yang hangat memicu siklus hidupnya menjadi lebih singkat. Sebaliknya, pada puncak musim hujan, kelembapan tinggi mendorong tingginya populasi ulat grayak frugiperda (Spodoptera frugiperda) dan ulat penggerek tongkol (Helicoverpa armigera). Pengamatan pada bagian pucuk daun muda dan ketiak daun harus dilakukan secara teliti setiap pagi hari.
Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian jagung. Kombinasi antara tumpang sari dengan tanaman refugia seperti bunga matahari di sekeliling lahan seluas 100 meter persegi, penggunaan perangkap feromon sintetik sebanyak 4 sampai 6 titik per hektar, serta pelepasan musuh alami seperti Trichogramma spp. mampu menekan populasi hama hingga di bawah ambang ekonomi.
Jika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi (misalnya ditemukannya kerusakan daun lebih dari 10 persen pada fase vegetatif), tindakan intervensi kuratif perlu segera diambil. Penggunaan agens hayati berbasis jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana disemprotkan pada sore hari saat kelembapan naik. Apabila diperlukan pestisida kimia sintetis, aplikasi wajib mengacu pada prinsip tepat sasaran dan mematuhi petunjuk pada kemasan produk.





