Jagung, Mendiagnosis dan Mengendalikan Hama Utama Tanaman Jagung
Nascimento Jr. / Pexels

Mendiagnosis dan Mengendalikan Hama Utama Tanaman Jagung

Identifikasi secara tepat jenis hama yang menyerang tanaman jagung Anda berdasarkan gejala di lapangan agar pengendalian dilakukan secara efektif dan ramah lingkungan.

Jawaban singkat

Serangan hama pada tanaman jagung di Indonesia sering kali menjadi penyebab utama penurunan hasil panen hingga 30 sampai 80 persen jika tidak ditangani sejak awal. Kondisi iklim tropis dengan kelembapan di atas 70 persen sepanjang tahun memicu perkembangbiakan cepat berbagai jenis serangga penggerek dan ulat. Pemantauan rutin minimal 2 kali seminggu pada area pertanaman sangat krusial, terutama pada fase vegetatif awal umur 10 sampai 35 hari setelah tanam.

Ringkas: Jagung

Cahaya
Cahaya matahari penuh (8-10 jam per hari)
Penyiraman
Cukup pada fase vegetatif, kurangi jelang panen
Musim
Awal musim hujan atau kemarau dengan irigasi
Tingkat Kesulitan
Sedang

Periksa bagian gulungan daun muda secara berkala untuk mendeteksi ulat grayak sejak dini.

Pada musim kemarau, hama penusuk-penghisap seperti kutu daun (Aphis maidis) dan thrips cenderung mendominasi karena suhu udara yang hangat memicu siklus hidupnya menjadi lebih singkat. Sebaliknya, pada puncak musim hujan, kelembapan tinggi mendorong tingginya populasi ulat grayak frugiperda (Spodoptera frugiperda) dan ulat penggerek tongkol (Helicoverpa armigera). Pengamatan pada bagian pucuk daun muda dan ketiak daun harus dilakukan secara teliti setiap pagi hari.

Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian jagung. Kombinasi antara tumpang sari dengan tanaman refugia seperti bunga matahari di sekeliling lahan seluas 100 meter persegi, penggunaan perangkap feromon sintetik sebanyak 4 sampai 6 titik per hektar, serta pelepasan musuh alami seperti Trichogramma spp. mampu menekan populasi hama hingga di bawah ambang ekonomi.

Jika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi (misalnya ditemukannya kerusakan daun lebih dari 10 persen pada fase vegetatif), tindakan intervensi kuratif perlu segera diambil. Penggunaan agens hayati berbasis jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana disemprotkan pada sore hari saat kelembapan naik. Apabila diperlukan pestisida kimia sintetis, aplikasi wajib mengacu pada prinsip tepat sasaran dan mematuhi petunjuk pada kemasan produk.

Penyebab & Cara Mengatasi

Ulat Grayak Frugiperda (Spodoptera frugiperda)

Ciri: Daun muda berlubang besar tidak teratur, terdapat serbuk gergaji atau kotoran kasar di pupus daun, serta terdapat garis putih berbentuk huruf Y terbalik di kepala ulat.

Solusi: Bersihkan kotoran di pupus daun, aplikasikan sediaan agens hayati Beauveria bassiana atau Bacillus thuringiensis pada sore hari, serta pasang perangkap feromon.

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)

Ciri: Lubang kecil berderet rapi pada daun muda yang baru membuka, terdapat lubang bekas gigitan pada batang dengan lekatan kotoran halus, dan batang mudah patah.

Solusi: Lakukan pemotongan bunga jantan setelah penyerbukan selesai, lepaskan parasitoid telur Trichogramma, dan jaga kebersihan gulma di sekitar lahan.

Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)

Ciri: Rambut jagung terpotong atau berwarna cokelat prematur, terdapat lubang di ujung tongkol dengan biji jagung bagian atas rusak tergerogoti.

Solusi: Oleskan minyak nabati atau ekstrak ekstrak mimba pada rambut jagung saat baru keluar, serta kumpulkan ulat secara manual pada skala kecil.

Kutu Daun Jagung (Aphis maidis)

Ciri: Koloni serangga kecil berwarna hijau kekuningan bergerombol di pucuk daun atau bunga jantan, daun menguning dan terasa lengket akibat embun jelut.

Solusi: Semprotkan larutan sabun pertanian atau ekstrak daun tembakau, serta lestarikan predator alami seperti kumbang kubah.

Langkah-langkah

  1. Lakukan pengamatan berkala pada 20 sampel tanaman secara acak diagonal di lahan setiap 3 sampai 4 hari sekali.
  2. Identifikasi jenis hama dan hitung tingkat kerusakannya untuk memastikan apakah populasi telah melewati ambang batas pengendalian.
  3. Terapkan sanitasi lahan dengan membuang sisa tanaman terserang berat dan membersihkan gulma yang menjadi inang alternatif.
  4. Gunakan agen pengendali hayati seperti jamur Beauveria bassiana atau parasitoid Trichogramma secara merata pada area terinfeksi.
  5. Gunakan pestisida kimia sebagai langkah terakhir sesuai petunjuk label kemasan jika kerusakan tanaman melampaui ambang toleransi ekonomi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan utama kerusakan akibat Ulat Grayak Frugiperda dan Penggerek Batang biasa?

Ulat Grayak Frugiperda memakan daun muda hingga bolong besar tidak teratur dengan kotoran kasar di pucuk, sedangkan Penggerek Batang membuat lubang berderet rapi pada daun dan melubangi bagian dalam batang.

Kapan waktu paling rawan tanaman jagung terserang hama ulat?

Fase paling kritis adalah fase vegetatif awal pada umur 10 sampai 30 hari setelah tanam untuk ulat grayak, serta fase pembentukan tongkol pada umur 45 sampai 65 hari untuk ulat penggerek tongkol.

Apakah penanaman serentak bisa mengurangi serangan hama jagung?

Ya, penanaman serentak dalam satu hamparan dengan selisih waktu maksimal 10 hari sangat efektif memutus ketersediaan pakan hama sehingga populasi tidak memuncak.

Bagaimana cara mengatasi embun jelut akibat kutu daun pada jagung?

Kendalikan populasi kutu daunnya terlebih dahulu menggunakan sediaan nabati atau sabun pertanian. Embun jelut akan hilang seiring berkurangnya populasi kutu dan terkikis air hujan.

Lebih lanjut tentang Jagung

Panduan terkait

Hama & Pengendalian, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.