Penyakit busuk umbi disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora atau jamur Fusarium spp. Gejala awal berupa umbi lembek, berair, dan berbau busuk. Pada kondisi lembab, permukaan umbi ditumbuhi miselium putih (jika jamur) atau lendir (jika bakteri). Penyakit ini menyebar melalui luka mekanis saat penanaman atau panen, serta melalui tanah yang tergenang. Serangan berat terjadi pada lahan drainase buruk saat musim hujan (Oktober-April).
Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. atau Cercospora spp. Gejalanya berupa bercak kecil coklat kehitaman dengan tepi kuning pada daun, yang kemudian meluas dan menyebabkan daun mengering dan gugur. Penyakit ini berkembang cepat pada kelembaban tinggi dan curah hujan tinggi (lebih dari 200 mm/bulan). Serangan parah dapat mengurangi luas daun hingga 50%, sehingga menghambat pembentukan umbi.
Pengendalian utama adalah pencegahan melalui pengelolaan lahan dan bibit. Gunakan bibit sehat dari umbi yang tidak cacat. Perbaiki drainase dengan membuat bedengan setinggi 30-40 cm, terutama di lahan sawah. Lakukan pergiliran tanaman dengan palawija (jagung, kacang) minimal 2 musim. Jika gejala muncul, segera cabut tanaman sakit dan bakar. Semprotkan fungisida berbahan aktif mancozeb atau tembaga hidroksida sesuai dosis anjuran. Untuk busuk umbi, kurangi penyiraman dan hindari genangan. Konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk rekomendasi spesifik.