Penggerek umbi (Cylas formicarius) menyerang umbi gadung di dalam tanah. Ciri serangannya berupa lubang kecil pada umbi dan kotoran berwarna coklat di sekitar lubang. Tanaman yang terserang akan layu dan umbi menjadi busuk. Pengendaliannya dimulai dengan rotasi tanaman (jangan menanam gadung di lahan yang sama berturut-turut), penggunaan umbi bibit sehat, dan penimbunan pangkal batang dengan tanah setinggi 10-15 cm setiap 2 minggu sekali untuk mencegah kumbang betina bertelur. Jika serangan sudah terjadi, kumpulkan dan musnahkan umbi yang terserang.
Kumbang daun (Aspidomorpha spp.) merusak daun gadung dengan cara menggerek jaringan daun sehingga tampak seperti jendela transparan. Serangan berat menyebabkan daun berlubang dan pertumbuhan tanaman terhambat. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menanam tanaman perangkap seperti bayam duri di sekitar lahan, atau menggunakan insektisida nabati seperti ekstrak daun sirsak (1 kg daun sirsak direbus dalam 5 liter air, dinginkan, semprotkan setiap 3 hari sekali). Hindari penggunaan insektisida kimia yang tidak perlu untuk menjaga musuh alami seperti kumbang koksi.
Ulat daun (Spodoptera litura) memakan daun gadung secara bergerombol, terutama pada malam hari. Ciri serangannya adalah daun habis tersisa tulang daun, dan terdapat kotoran ulat di permukaan daun. Pengendaliannya meliputi pemasangan lampu perangkap (light trap) untuk menangkap ngengat dewasa, pengambilan telur dan ulat secara manual, serta penyemprotan Bacillus thuringiensis (Bt) sesuai dosis pada label. Jika populasi tinggi, konsultasikan dengan penyuluh setempat untuk rekomendasi insektisida selektif.