Memasuki usia 1 hingga 2 bulan setelah tanam, Anda wajib memasang tiang panjat atau ajir setinggi 2 meter dari bambu di dekat setiap pangkal batang gadung. Sulur gadung bersifat melilit ke kiri dan sangat membutuhkan sandaran kayu atau bambu untuk mendapatkan sinar matahari penuh. Tanpa penyangga yang kokoh, sulur akan merambat di atas tanah dan rentan membusuk akibat kelembapan tinggi selama musim penghujan di Indonesia. Lakukan pengikatan longgar pada sulur muda agar tidak patah saat pertama kali naik ke tiang panjat.
Penyiraman tanaman gadung dilakukan secara rutin setiap sore hari hanya pada saat musim kemarau atau ketika tanah terlihat benar-benar kering. Saat musim hujan tiba, Anda harus membuat parit drainase di sekeliling bedengan agar air tidak menggenang di sekitar area umbi. Genangan air adalah musuh utama tanaman gadung karena menyebabkan umbi di dalam tanah cepat membusuk dan terserang jamur patogen. Lakukan penyiangan gulma rumput liar secara manual setiap 3 minggu sekali agar nutrisi tanah tidak direbut oleh tanaman pengganggu.
Pemupukan susulan diberikan setiap 3 bulan sekali menggunakan kompos matang atau pupuk organik cair yang disiramkan ke sekitar pangkal batang bagian bawah. Menjelang usia 9 hingga 12 bulan, daun dan sulur gadung akan mulai menguning lalu mengering secara alami sebagai tanda umbi siap dipanen. Panen gadung harus dilakukan secara hati-hati menggunakan cangkul dengan menggali radius 50 sentimeter dari pangkal batang agar kulit umbi tidak terluka. Umbi gadung segar mengandung racun dioscorine sehingga membutuhkan proses perendaman khusus sebelum diolah menjadi bahan pangan.