Di tengah terik musim kemarau dengan curah hujan di bawah 100 mm per bulan, stres terma memicu lonjakan laju transpirasi tanaman pisang. Tanaman pisang dewasa membutuhkan pasokan air setidaknya 20 hingga 30 liter per rumpun setiap 3 hari sekali. Jika kebutuhan air ini terpenuhi namun daun tetap mengulai melingkar di pangkal batang, maka saluran pembuluh pembawa hara telah tersumbat oleh miselium jamur atau lendir bakteri yang berkembang pesat pada suhu tanah hangat berkisar 28 sampai 32 derajat Celsius.
Penanganan kasus pisang layu memerlukan disiplin sanitasi peralatan pertanian yang ketat. Pemotongan anakan atau pelepah tua harus menggunakan parang yang telah disterilkan dengan larutan pemutih atau alkohol 70 persen setiap kali berpindah rumpun. Jika terindikasi serangan layu pembuluh, rumpun yang terinfeksi wajib dibongkar total beserta perakarannya, lalu ditaburi kapur pertanian sebanyak 500 gram per lubang dan dibiarkan merana selama minimal 3 bulan sebelum ditanami kembali.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, aplikasi bahan organik berupa pupuk kandang matang sebanyak 10 hingga 15 kg per lubang tanam yang diperkaya agens hayati Trichoderma sangat dianjurkan. Selain itu, pemilihan varietas pisang yang lebih tahan seperti Pisang Ambon Hijau atau Raja Bulu dapat menjadi alternatif bijak di daerah endemik layu, dibandingkan varietas Kepok yang sangat rentan terhadap penyakit darah bakteri.





