Pada fase vegetatif awal, yaitu usia 1 hingga 4 minggu setelah tanam, arbei membutuhkan pasokan nitrogen yang cukup untuk memperkuat pembentukan akar dan daun hijau segar. Berikan pupuk organik cair yang dilarutkan dalam air dengan frekuensi 1 kali seminggu, sebanyak 250 mililiter per tanaman. Memasuki musim hujan, kurangi frekuensi penyiraman pupuk cair menjadi 14 hari sekali guna mencegah kelembapan berlebih yang berisiko memicu pembusukan akar.
Saat tanaman arbei memasuki fase generatif pada usia 6 hingga 8 minggu setelah tanam, fokus pemupukan dialihkan ke unsur fosfor dan kalium untuk merangsang pembentukan bunga dan mengoptimalkan rasa manis buah. Aplikasi pupuk tinggi kalium diberikan secara rutin setiap 14 hari sekali sebanyak 1 hingga 2 gram per tanaman yang ditabur melingkar sejarak 5 sentimeter dari batang utama. Pada puncak musim kemarau, pemupukan wajib diimbangi dengan penyiraman 500 mililiter air per pot setiap pagi.
Pemeliharaan hara jangka panjang dilakukan dengan pembenahan tanah susulan setiap 2 hingga 3 bulan sekali. Taburkan kembali 100 gram pupuk kasgot atau kompos halus di sekeliling piringan tanaman arbei, diikuti dengan penutupan mulsa jerami setebal 3 sentimeter. Mulsa ini sangat efektif di wilayah dataran tinggi maupun dataran rendah Indonesia untuk menjaga kelembapan pupuk, menahan erosi hara akibat hujan deras, serta mencegah buah arbei bersentuhan langsung dengan tanah basah.