Untuk meminimalkan risiko infeksi, pekebun perlu menerapkan jarak tanam ideal antara 25 hingga 30 centimeter antar tanaman dalam bedengan atau pot. Pemantauan rutin setidaknya 2 kali seminggu sangat dianjurkan guna mendeteksi gejala awal seperti perubahan warna daun atau kemunculan bercak hitam sebelum penyakit menyebar ke seluruh populasi.
Praktik sanitasi kebun harus dilakukan secara konsisten setiap 7 hingga 10 hari dengan memangkas daun-daun tua yang menempel pada media tanam. Seluruh pangkasan sisa tanaman terinfeksi harus segera dibakar atau dibuang jauh dari area pertanaman, bukannya dijadikan kompos segar yang dapat menjadi sumber inokulum baru.
Pengendalian penyakit secara terpadu dapat diperkuat dengan aplikasi agens hayati berbahan aktif Trichoderma harzianum atau Bacillus subtilis yang disemprotkan setiap 14 hari sekali pada musim kemarau dan meningkat menjadi 7 hari sekali saat intensitas hujan tinggi pada bulan November hingga Februari.