Hama kedua adalah tungau merah (Tetranychus urticae), yang aktif saat cuaca panas dan kering. Tungau ini menyebabkan daun berbintik kuning atau perunggu, serta muncul sarang halus di permukaan bawah daun. Serangan berat dapat membuat daun rontok dan tanaman layu. Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprot air bertekanan tinggi secara rutin untuk mengurangi populasi tungau.
Hama ketiga adalah ulat grayak (Spodoptera litura) yang memakan daun dan bunga. Ulat ini aktif pada malam hari dan sering bersembunyi di dalam tanah atau di bawah daun. Gejala serangan berupa lubang tidak beraturan pada daun dan kotoran ulat. Pengendalian mekanis dengan mengambil ulat secara manual efektif untuk populasi kecil.
Pengendalian hama secara terpadu meliputi: menjaga kebersihan lahan dari gulma dan sisa tanaman, melakukan rotasi tanaman, serta menggunakan musuh alami seperti kumbang Coccinellidae untuk kutu daun. Hindari penggunaan pestisida kimia secara berlebihan karena dapat membunuh predator alami. Jika serangan parah, konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk rekomendasi pengendalian yang tepat.