Penyiraman perlu dijaga tidak berlebihan. Siram 2–3 kali seminggu saat musim kemarau, dan kurangi menjadi 1–2 kali seminggu saat musim hujan, pastikan tanah tidak becek. Genangan air menyebabkan umbi busuk. Pemupukan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan pupuk NPK 16-16-16 seimbang (1 sendok teh per liter air) selama masa pertumbuhan (April–Agustus). Setelah bunga layu (Oktober), hentikan pemupukan dan kurangi penyiraman untuk memicu dormansi. Pemangkasan hanya pada daun dan batang yang menguning, jangan memotong batang hijau karena masih menyuplai nutrisi ke umbi.
Hama yang sering menyerang adalah kutu daun (Aphis spp.) dan tungau laba-laba (Tetranychus urticae). Kutu daun menyebabkan daun keriting dan lengket, biasanya muncul di musim kemarau. Semprot dengan air sabun (5 ml sabun cair per liter air) setiap 3 hari selama seminggu. Tungau laba-laba menimbulkan bercak kuning dan jaring halus di bawah daun, terutama saat cuaca panas dan kering. Tingkatkan kelembaban dengan menyemprot air di sekitar tanaman dan gunakan predator alami seperti kumbang Coccinellidae. Penyakit utama adalah busuk umbi (Fusarium spp.) dan bercak daun (Botrytis elliptica). Busuk umbi ditandai umbi lembek dan berbau, akibat drainase buruk; solusinya dengan mengganti media tanam dan menanam umbi sehat. Bercak daun berupa bercak coklat melingkar dengan tepi kuning, dicegah dengan jarak tanam longgar dan sirkulasi udara baik; buang daun sakit segera.
Perbanyakan dilakukan melalui umbi anakan yang dipisahkan saat dormansi (Oktober–November). Setiap umbi anakan yang berdiameter minimal 3 cm bisa langsung ditanam. Untuk merangsang pembungaan, pastikan tanaman mengalami periode dingin (suhu malam 10–15°C) selama 6–8 minggu. Di Indonesia, hal ini bisa disimulasikan dengan menyimpan umbi di lemari es (bukan freezer) pada suhu 4–7°C selama 6 minggu sebelum tanam. Setelah ditanam, butuh waktu 90–120 hari hingga berbunga. Jangan memindahkan tanaman saat berbunga karena dapat menyebabkan kuncup rontok.