Ulat grayak (Spodoptera litura) adalah hama paling merusak. Ulat muda memakan daun dari sisi bawah, meninggalkan sisa epidermis transparan (window pane). Ulat besar memakan daun hingga berlubang dan meninggalkan kotoran hitam. Serangan berat di musim kemarau bisa menghabiskan seluruh daun dalam 3-4 hari. Pengendalian: tanam refugia seperti bunga kenikir atau tanaman liar berbunga di sekitar bedengan untuk menarik musuh alami (tawon parasitoid, laba-laba). Jika terpaksa menggunakan insektisida, pilih yang selektif dan berbahan aktif rendah risiko, serta konsultasikan dosis dengan penyuluh BPP setempat.
Trips (Thrips tabaci) merupakan hama kecil berwarna kuning kehitaman yang mengisap cairan daun, menyebabkan daun berbercak perak atau keabu-abuan dan menggulung. Serangan parah menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil. Trips aktif di musim kemarau dan menyukai tanaman yang stres kekeringan. Pengendalian: jaga kelembaban bedengan dengan mulsa jerami, hindari kekeringan, dan semprot air bertekanan tinggi untuk mengurangi populasi. Gunakan perangkap lengket kuning (20-25 lembar per hektar) untuk memonitor dan mengurangi trips dewasa.
Kutu daun (Myzus persicae) mengisap cairan daun dan batang muda, menyebabkan daun keriput dan layu. Kutu daun juga menghasilkan embun madu yang memicu tumbuhnya jamur jelaga hitam. Koloni kutu daun biasanya ditemukan di pucuk tanaman atau permukaan bawah daun. Pengendalian: semprot dengan air sabun (1 sendok sabun cair lembut per liter air) seminggu sekali selama 3 kali. Lepaskan predator seperti kumbang koksi (Coccinellidae) atau larva lalat syrphid yang memangsa kutu. Hindari pemupukan nitrogen berlebihan yang membuat tanaman terlalu subur dan menarik kutu.