Persiapan lahan yang baik adalah kunci. Olah tanah sedalam 20–30 cm, campurkan pupuk kandang matang 10–15 ton/ha (atau 2–3 kg/m² untuk pekarangan) dan dolomit 1–2 ton/ha jika pH tanah <5,5. Buat bedengan lebar 1 m, tinggi 30 cm, dengan saluran drainase. Bibit bisa disemai terlebih dahulu selama 4–6 minggu di media halus, lalu pindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 20×20 cm atau 25×25 cm. Penanaman sebaiknya sore hari untuk mengurangi transpirasi.
Perawatan rutin meliputi penyiraman 2 kali sehari (pagi dan sore) saat musim kemarau, dan 1 kali sehari saat musim hujan, pastikan tanah lembab tapi tidak tergenang. Pemupukan susulan dilakukan setiap 2 minggu sekali menggunakan pupuk NPK 16-16-16 dengan dosis 5–10 gram/tanaman atau pupuk organik cair (POC) sesuai petunjuk label. Lakukan penyiangan gulma setiap 1–2 minggu dan pembumbunan (menimbun pangkal batang) agar akar kokoh. Tanaman siap panen pada umur 3–4 bulan setelah pindah tanam, dengan ciri daun sudah cukup lebar dan batang renyah.
Hama utama seledri adalah ulat grayak (Spodoptera), kutu daun (Aphids), dan trips. Untuk mengendalikannya, lakukan rotasi tanaman, pasang perangkap lampu, atau semprot dengan pestisida nabati seperti ekstrak daun sirsak atau bawang putih. Penyakit yang sering muncul adalah bercak daun (Cercospora) dan busuk leher akar (Rhizoctonia). Hindari kelembaban berlebih, perbaiki drainase, dan jika perlu gunakan fungisida sesuai rekomendasi penyuluh setempat. Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang atau mencabut tanaman utuh, lalu segera cuci dan simpan di suhu dingin (4–8°C) agar tetap segar.