Pada musim kemarau yang berlangsung antara bulan Mei hingga September, populasi hama tipe pengisap cairan seperti kutu daun dan tungau merah cenderung melonjak tajam. Hama-hama ini merusak jaringan sel daun muda seledri, menyebabkan helai daun mengarut, menguning, dan pertumbuhan vegetatif tanaman menjadi terhambat. Pengamatan rutin pada permukaan bawah daun sangat krusial selama periode cuaca kering ini.
Memasuki musim hujan dari bulan November hingga Maret, kelembapan udara yang tinggi memicu peningkatan serangan ulat grayak dan lalat pengorok daun. Larva pengorok daun membuat alur melingkar berwarna putih transparan pada jaringan mesofil, sedangkan ulat grayak memakan helai daun hingga menyisakan tulang daun. Serangan pada fase ini langsung menurunkan nilai jual seledri di tingkat petani.
Pengendalian hama seledri yang efektif berbasis pada pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memprioritaskan sanitasi lahan, penggunaan perangkap fisik, dan pemanfaatan musuh alami. Apabila intensitas serangan meningkat secara signifikan, penanganan terpadu serta konsultasi bersama petugas penyuluh setempat menjadi langkah terbaik untuk mengamankan produksi seledri.






