Penyebab pertama adalah kekurangan air. Ciri-cirinya: daun menguning dan layu pada siang hari, namun segar kembali di pagi atau sore hari. Tanah terlihat kering dan retak. Solusinya: beri mulsa organik seperti jerami setebal 5-7 cm untuk menjaga kelembaban, dan siram secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan volume 0,5-1 liter per tanaman tergantung umur. Hindari penyiraman berlebihan yang bisa menyebabkan busuk akar.
Penyebab kedua adalah serangan hama seperti ulat tanah (Agrotis ipsilon) atau kutu daun (Brevicoryne brassicae). Ulat tanah memotong batang tanaman muda di permukaan tanah, menyebabkan layu mendadak. Kutu daun menghisap cairan daun sehingga daun mengeriting dan layu. Ciri pembeda: pada ulat tanah, batang terpotong dan ada lubang di pangkal; pada kutu daun, ada koloni serangga kecil di permukaan bawah daun. Solusinya: untuk ulat tanah, pasang perangkap lampu atau taburkan nematoda entomopatogen di sekitar pangkal; untuk kutu daun, semprot dengan larutan sabun insektisida atau minyak neem (ikuti petunjuk label).
Penyebab ketiga adalah penyakit layu bakteri (Xanthomonas campestris) atau jamur akar (Fusarium oxysporum). Layu bakteri ditandai dengan daun menguning dan layu permanen, serta potongan batang mengeluarkan lendir berbau. Layu Fusarium menyebabkan daun menguning dari bawah, layu progresif, dan akar membusuk. Kedua penyakit ini sulit dikendalikan setelah tanaman terinfeksi. Solusinya: cabut dan bakar tanaman sakit, lakukan rotasi tanaman dengan non-brassica (misal kacang-kacangan) minimal 2 tahun, dan perbaiki drainase. Pastikan benih bebas patogen.