Pada musim kemarau, serangan kutu daun (Brevicoryne brassicae) dan ulat tritip (Plutella xylostella) cenderung meningkat pesat karena suhu udara yang hangat mempercepat siklus hidup hama menjadi hanya 12 sampai 14 hari. Sebaliknya, saat musim hujan berkepanjangan, kelembapan udara di atas 85 persen memicu kemunculan ulat grayak (Spodoptera litura) yang bersembunyi di dalam tanah saat siang hari dan merusak tajuk tanaman pada malam hari.
Pengendalian hama kembang kol secara terpadu menekankan kombinasi teknik budidaya, seperti penggunaan mulsa plastik hitam perak seluas 100 persen bedengan, tumpang sari dengan tanaman perangkap seperti daun bawang atau marigold pada jarak 2 meter, serta sanitasi gulma secara berkala setiap 7 hari sekali. Pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah per hektar juga efektif menekan populasi serangga dewasa penjelajah.
Jika populasi hama melebihi ambang ekonomi, yaitu ditemukan 1 larva per tanaman pada fase vegetatif atau 0,5 larva per tanaman pada fase pembentukan krop umur 35 hari, intervensi hayati atau kimiawi secara bijak wajib dilakukan. Pemakaian agens hayati seperti Bacillus thuringiensis atau ekstrak nabati daun mimba dengan konsentrasi 50 gram per liter air dapat disemprotkan pada sore hari pukul 16.00 WIB saat hama aktif bertelur dan makan.






