Memasuki fase vegetatif lanjut pada umur 22 hingga 35 hari setelah tanam, tingkatkan porsi kalium dan kurangi nitrogen agar tanaman tidak terlalu berfokus pada pertumbuhan daun semata. Pemupukan susulan pada periode ini dilakukan setiap 7 hari sekali dengan cara ditugal di sekitar perakaran sejauh 10 centimeter dari pangkal batang, kemudian segera ditutup tanah dan disiram air secukupnya agar hara tidak menguap. Memasuki musim hujan di Indonesia, aplikasikan pupuk dalam bentuk padat dengan sistem alur untuk menghindari pencucian hara akibat curah hujan tinggi, sementara di musim kemarau lebih baik menggunakan sistem kocor.
Fase paling krusial adalah saat transisi menuju generatif atau pembentukan kuping bunga pada umur 40 hingga 50 hari setelah tanam, di mana tanaman sangat membutuhkan tambahan unsur kalium tinggi serta boron untuk mencegah gejala rongga pada batang dan kepala bunga pecah. Berikan pupuk susulan terakhir yang kaya unsur hara makro dan mikro, lalu lakukan teknik pengikatan daun tua di atas kepala bunga jika varietas yang ditanam belum memiliki sifat menutupi sendiri, demi menjaga warna bunga tetap putih bersih terlindung dari teriknya matahari tropis.
Ketepatan waktu dan dosis pemupukan harus selalu diiringi dengan manajemen kelembapan tanah yang baik, karena kekurangan air saat fase pembentukan bunga akan menyebabkan hasil panen kerdil dan bunga berasa pahit. Lakukan penyiraman dua kali sehari pada musim kemarau atau pastikan drainase lahan berfungsi optimal saat musim penghujan agar pupuk yang diberikan terserap sempurna oleh bulu-bulu akar tanpa menyebabkan kebusukan pangkal batang. Evaluasi kesehatan tanaman secara berkala di lapangan dan sesuaikan takaran hara apabila terlihat gejala defisiensi pada lembar daun bagian bawah.