Gejala awal kerusakan sering kali tidak terlihat di permukaan tanah, tetapi tanaman akan mulai menunjukkan kelayuan pada siang hari saat terik matahari meski tanah terlihat basah. Jika bedengan seluas 10 meter persegi memiliki genangan air atau aerasi kurang dari 15 persen, mikroorganisme patogen tanah seperti Pythium, Rhizoctonia, atau bakteri Pectobacterium akan berkembang pesat membunuh perakaran.
Penanganan yang terlambat dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari sejak gejala layu muncul dapat menyebabkan kegagalan panen total hingga 80 persen pada petakan kembang kol. Oleh karena itu, pembuatan bedengan setinggi minimal 30 hingga 40 sentimeter dan saluran drainase selokan antarbedengan selebar 40 sentimeter sangat krusial untuk mengalirkan kelebihan air hujan.
Pencegahan secara hayati dapat dilakukan dengan mengaplikasikan agens hayati seperti Trichoderma spp. sebanyak 20 gram per lubang tanam saat pemindahan bibit berumur 21 hari setelah semai. Aplikasi pupuk organik yang matang sebanyak 10 hingga 15 ton per hektar juga meningkatkan porousitas tanah sehingga akar kembang kol bernapas lebih optimal selama musim hujan.





