Gejala serangan hama pada lempuyang bervariasi tergantung jenis hamanya. Ulat penggulung daun menyebabkan daun tergulung seperti pipa, berwarna coklat, dan terdapat kotoran hitam di dalam gulungan. Kutu daun menyerang pucuk dan daun muda, menyebabkan daun keriting, menguning, dan muncul embun madu yang memicu jamur hitam. Tungau merah menimbulkan bercak kuning keperakan pada permukaan daun bagian bawah, daun mengering, dan terdapat jaring halus. Identifikasi dini sangat penting untuk menentukan langkah pengendalian yang tepat.
Pengendalian hama lempuyang dapat dilakukan secara mekanis, biologis, dan kimiawi. Secara mekanis, potong dan kumpulkan daun yang terserang ulat penggulung, lalu musnahkan dengan dibakar atau dikubur. Untuk kutu daun dan tungau, semprot dengan air bertekanan tinggi untuk mengurangi populasinya. Pengendalian biologis dapat memanfaatkan musuh alami seperti predator kutu daun (kumbang Coccinella) dan parasitoid ulat (Trichogramma). Jika diperlukan pestisida, gunakan insektisida berbahan aktif azadirachtin atau spinosad sesuai label, dan konsultasikan dengan penyuluh BPP setempat.
Pencegahan serangan hama lempuyang meliputi penanaman varietas tahan, rotasi tanaman dengan non-Zingiberaceae, pemupukan berimbang (N, P, K) untuk memperkuat tanaman, serta sanitasi lahan dengan membersihkan gulma dan sisa tanaman. Pada musim kemarau, lakukan penyiraman rutin untuk mengurangi stres tanaman yang memicu serangan tungau. Pantau tanaman setiap minggu, terutama saat fase vegetatif awal dan pembentukan rimpang. Dengan penerapan PHT (Pengendalian Hama Terpadu), risiko kerugian akibat hama dapat diminimalkan.