Penyiraman dilakukan 2–3 hari sekali di musim kemarau, namun dikurangi saat hujan. Mulsa jerami atau alang-alang setebal 5–7 cm sangat dianjurkan untuk menjaga kelembaban dan menekan gulma. Beri naungan paranet 50% atau tanam di bawah pohon pelindung seperti lamtoro atau pisang, karena temu hitam membutuhkan intensitas cahaya 50–70%. Tanpa naungan, daun menguning dan rimpang kecil.
Pemupukan susulan diberikan setiap 1–2 bulan. Pupuk organik cair (urin sapi yang difermentasi 7 hari, diencerkan 1:10) dikocor 500 ml per tanaman. Bisa juga pupuk NPK 16-16-16 dosis 5 gram per tanaman, dilarutkan dalam 1 liter air, dikocor setiap 2 bulan. Penyiangan gulma dilakukan manual setiap 2–3 minggu. Pembumbunan (menimbun pangkal batang) dilakukan setiap 2 bulan untuk merangsang pertumbuhan rimpang.
Panen rimpang dapat dimulai setelah 8–10 bulan, ditandai daun menguning dan batang rebah. Ciri rimpang siap panen: kulit coklat tua, daging jingga tua, aroma tajam. Gali hati-hati, jangan sampai rimpang terluka. Hasil panen bisa mencapai 15–20 ton per hektar. Rimpang segar bisa disimpan di tempat teduh selama 2–3 minggu, atau diolah menjadi simplisia dengan pengeringan suhu 40–50°C.