Persiapan lahan dimulai dengan mencangkul tanah sedalam 20–30 cm, lalu buat bedengan lebar 1 m dan tinggi 30 cm untuk menghindari genangan. Taburkan pupuk kandang matang 10–15 ton/ha atau setara 1–2 kg/m², campur rata. Benih jintan putih berbentuk kecil (1–2 mm) dan perlu direndam air hangat (50°C) selama 12 jam untuk mematahkan dormansi. Semai benih langsung di bedengan dengan jarak tanam 30×15 cm, lubang sedalam 0,5 cm, masukkan 3–4 benih per lubang, lalu tutup tipis. Penyiraman dilakukan lembut setiap pagi agar benih tidak hanyut. Kecambah akan muncul dalam 7–14 hari.
Perawatan meliputi penyiraman rutin 2–3 kali seminggu jika tidak hujan, hindari genangan. Pemupukan susulan diberikan saat tanaman berumur 3 minggu dan 6 minggu setelah tanam menggunakan pupuk NPK 16-16-16 dengan dosis 150 kg/ha atau setara 15 gram/m², ditabur di sekeliling tanaman lalu disiram. Penyiangan gulma dilakukan manual setiap 2 minggu sekali karena jintan putih tidak tahan persaingan. Hama utama adalah kutu daun dan ulat grayak; kendalikan dengan semprotan air atau pestisida nabati seperti ekstrak daun nimba 10%. Penyakit layu fusarium dapat dicegah dengan drainase baik dan rotasi tanaman.
Panen jintan putih dilakukan saat tanaman berumur 100–120 hari setelah tanam, ditandai dengan daun menguning dan buah (mericarp) berwarna coklat kehitaman. Potong seluruh tanaman dekat permukaan tanah, lalu jemur di bawah sinar matahari selama 3–5 hari hingga benar-benar kering. Biji akan terlepas dengan mudah setelah dirontokkan. Hasil panen rata-rata 400–600 kg biji kering per hektar. Simpan biji dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering. Untuk konsumsi sendiri, Anda bisa memanen bertahap dengan memotong payung bunga yang sudah kering.