Penyebab pertama yang paling umum adalah kekurangan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan kalium (K). Kekurangan nitrogen menyebabkan daun tua menguning merata dimulai dari ujung daun, sedangkan kekurangan kalium menyebabkan tepi daun menguning dan kering. Solusinya adalah melakukan pemupukan berimbang dengan pupuk organik atau anorganik sesuai rekomendasi setempat. Untuk abaka, dosis pupuk umumnya 200-300 kg Urea, 100-150 kg SP-36, dan 200-300 kg KCl per hektar per tahun, dibagi dalam 2-3 kali aplikasi. Namun, konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk dosis tepat sesuai kondisi lahan.
Penyebab kedua adalah serangan penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) atau layu fusarium (Fusarium oxysporum). Layu bakteri ditandai dengan daun menguning mendadak, layu, dan terdapat lendir bakteri pada potongan batang. Layu fusarium menyebabkan daun menguning mulai dari daun terbawah, diikuti layu dan kematian tanaman. Tidak ada obat kimia yang efektif untuk penyakit ini. Tindakan yang dianjurkan adalah mencabut dan membakar tanaman sakit, melakukan rotasi tanaman dengan non-pisangan selama minimal 2 tahun, serta menggunakan bibit sehat bersertifikat.
Penyebab ketiga adalah serangan hama penggulung daun (Erionota thrax) atau kutu daun (Pentalonia nigronervosa). Penggulung daun membuat daun menggulung dan menguning pada bagian yang terserang. Kutu daun menyebabkan daun menguning dan keriting karena menghisap cairan daun. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan memotong daun terserang, atau menggunakan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba. Jika populasi tinggi, konsultasikan dengan BPP setempat untuk rekomendasi insektisida yang tepat.