Kumbang tanduk menjadi ancaman utama pada tanaman kelapa belum menghasilkan umur 1 hingga 3 tahun, terutama saat awal musim hujan ketika kelembapan mendukung perkembangbiakan larva di tempat penumpukan bahan organik. Sementara itu, serangan ulat artona dan kumbang sagu sering meningkat pesat pada musim kemarau panjang akibat kondisi tanaman yang stres air.
Pengendalian hama kelapa efektif dilakukan dengan mengintegrasikan sanitasi kebun secara berkala setiap 1 bulan sekali dan pemanfaatan agens hayati. Pembersihan batang lapuk, pembongkaran tunggul kelapa tua, serta penanaman tanaman penutup tanah jenis legum dapat memutus siklus hidup hama secara signifikan tanpa merusak ekosistem tanah.
Apabila populasi hama melebihi ambang batas ekonomi, penggunaan perangkap berferomon dan aplikasi jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae sebanyak 2 sampai 3 kali dalam semusim menjadi langkah terpadu yang paling aman. Pendekatan ini menjaga keberlanjutan kebun kelapa sekaligus mempertahankan kualitas buah yang dihasilkan.





