Selain faktor air, ketidakseimbangan nutrisi di dalam tanah menjadi pemicu utama klorosis. Defisiensi unsur hara nitrogen ditandai dengan perubahan warna kuning yang merata pada daun tua di umur 45 hingga 75 hari. Sementara itu, kekurangan unsur kalium memicu timbulnya warna kuning pada tepi helai daun yang lambat laun mengering seperti terbakar. Pemberian pupuk kompos matang sebanyak 5 hingga 10 ton per hektar sebelum tanam sangat efektif menjaga ketersediaan hara ini.
Kondisi cuaca panas dengan suhu udara di atas 30 derajat Celsius pada musim kemarau juga memicu ledakan populasi hama penghisap. Tungau merah (Tetranychus spp.) dan kutu daun (Aphis gossypii) sering bersembunyi di balik permukaan daun ubi jalar. Hama ini mengisap cairan sel daun, meninggalkan bercak-bercak kuning mikroskopis yang lama-kelamaan menyatu hingga seluruh daun menguning, menggulung, dan gugur sebelum waktunya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, penyiraman teratur harus dilakukan sebanyak 1 hingga 2 liter per lubang tanam setiap 2 sampai 3 hari sekali pada pagi hari. Penutupan guludan menggunakan mulsa jerami setebal 5 cm sangat dianjurkan untuk menekan penguapan air tanah. Jika ditemukan indikasi serangan hama, semprotkan agens hayati Beauveria bassiana atau larutan sabun kalium secara merata pada bagian bawah daun untuk mengendalikan populasi hama.





