Hama pertama yang paling ditakuti petani adalah kumbang penggerek umbi atau biasa disebut boleng, yang aktif menyerang terutama saat musim kemarau ketika tanah mengalami retak-retak. Kumbang dewasa meletakkan telur di pangkal batang atau celah tanah, dan larva yang menetas akan menggali ke dalam umbi, meninggalkan kotoran berwarna gelap di dalamnya. Umbi yang terserang hama ini biasanya terasa pahit saat dimasak dan sama sekali tidak layak konsumsi. Untuk mengatasinya, menjaga kelembapan tanah melalui pengairan teratur dan pembumbunan rutin sangat efektif menutup akses kumbang mencapai umbi.
Selain penggerek umbi, gangguan pada fase vegetatif sering ditimbulkan oleh ulat grayak dan kutu kebul yang menyerang daun serta pucuk tanaman muda. Ulat grayak memakan helaian daun hingga tinggal tulang daun saja, terutama pada musim hujan dengan kelembapan tinggi, sementara kutu kebul menghisap cairan sel daun dan menjadi vektor virus kerdil. Serangan berat dari kelompok hama daun ini akan menghentikan pertumbuhan tanaman dan membuat umbi gagal membesar. Pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan ulat secara manual serta pemasangan perangkap kuning lengket terbukti mampu menekan populasi mereka secara signifikan.
Penerapan praktik PHT atau Pengendalian Hama Terpadu menjadi kunci utama keberhasilan pekebun ubi jalar di seluruh wilayah nusantara. Rotasi tanaman dengan bukan golongan palawija atau padi sawah, penggunaan bibit bebas hama dari batang bagian atas, serta pembersihan gulma secara berkala akan memutus siklus hidup hama secara berkelanjutan. Jika serangan telah melewati ambang batas ekonomi dan memerlukan intervensi bahan kimia, selalu baca petunjuk pada label kemasan produk dan diskusikan dengan petugas BPP setempat demi keselamatan lingkungan serta hasil panen yang aman dikonsumsi.