Penyebab paling umum adalah kekurangan nitrogen (N). Ciri khasnya: daun tua menguning merata dari ujung, dimulai dari daun bagian bawah. Tanaman tumbuh kerdil dan warna hijau memudar. Solusinya: berikan pupuk organik kaya nitrogen seperti pupuk kandang (2-3 ton/ha) atau kompos, ditambah pupuk urea sesuai dosis anjuran setempat (konsultasi dengan BPP). Untuk kekurangan kalium (K), daun menguning di tepi dan ujung, lalu mengering. Berikan pupuk KCl atau abu dapur (1-2 ton/ha) untuk memperbaiki.
Hama penggerek batang (Ostrinia furnacalis) juga menyebabkan daun menguning. Ciri: terdapat lubang gerekan pada batang, daun layu dan menguning, serta terdapat serbuk gerek. Tanaman mudah rebah. Solusi: gunakan agens hayati seperti Beauveria bassiana atau Trichoderma sp., dan tanam tanaman perangkap seperti jagung di sekitar pertanaman. Lakukan sanitasi lahan dengan membersihkan sisa tanaman. Untuk penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), daun menguning mendadak, layu, dan batang mengeluarkan lendir jika dipotong. Tidak ada obat kimia yang efektif; lakukan rotasi tanaman dengan non-solanaceae minimal 2 tahun dan gunakan varietas tahan.
Selain itu, kekurangan unsur mikro seperti besi (Fe) atau seng (Zn) juga bisa menyebabkan daun menguning, terutama pada lahan kapuran atau berpasir. Ciri: daun muda menguning di antara tulang daun (klorosis interveinal). Solusi: semprot dengan pupuk daun yang mengandung Fe dan Zn sesuai dosis anjuran. Untuk mencegah, berikan pupuk organik secara rutin dan jaga pH tanah sekitar 5,5-6,5. Segera konsultasi dengan penyuluh pertanian setempat jika gejala tidak membaik setelah perbaikan hara dan pengendalian hama.