Cara Merawat Suweg Agar Subur dan Ubi Berukuran Besar

Merawat tanaman suweg agar subur membutuhkan pemupukan organik yang cukup, penyiangan rutin, serta pengelolaan drainase tanah agar umbi tumbuh maksimal tanpa membusuk.

Jawaban singkat

Tanaman suweg (Amorphophallus paeoniifolius) merupakan salah satu komoditas pangan lokal Indonesia yang sangat potensial dan memiliki daya tahan tinggi. Tanaman ini tumbuh optimal di bawah naungan parsial dengan intensitas cahaya matahari 30 hingga 50 persen, sehingga sangat cocok ditanam di lahan pekarangan atau sistem tumpangsari di bawah tegakan pohon pepohonan. Penanaman biasanya dimulai pada awal musim hujan sekitar bulan Oktober atau November agar masa pertumbuhan vegetatifnya mendapatkan pasokan air yang konsisten selama 5 sampai 6 bulan.

Ringkas: Suweg

Cahaya
Sinar matahari penuh hingga naungan parsial (60-100%)
Penyiraman
Penyiraman sedang, butuh kelembapan saat awal tumbuh dan kondisi kering saat dormansi
Musim
Sepanjang tahun (terbaik awal musim hujan)
Tingkat Kesulitan
Mudah

Tanaman suweg akan mengalami mati suri (dormansi) saat musim kemarau sebelum umbi siap dipanen.

Kunci utama perawatan suweg terletak pada kesuburan media tanam dan ketersediaan bahan organik. Sebelum penanaman, tambahkan pupuk kandang sapi atau kambing yang sudah matang sebanyak 5 hingga 10 kilogram per lubang tanam. Pada fase vegetatif aktif, tambahkan pupuk organik cair atau pupuk susulan pada bulan ke-1 dan ke-3 setelah tunas tumbuh untuk menyokong pembentukan batang semu yang kokoh dan daun yang lebar.

Pengelolaan air dan penyiangan gulma sangat menentukan kesehatan umbi suweg di dalam tanah. Selama puncak musim hujan pada bulan Desember hingga Februari, pastikan parit drainase di sekitar bedengan dibuat setinggi 20 hingga 30 centimeter agar air tidak tergenang di sekitar perakaran. Bersihkan gulma di sekitar piringan tanaman secara rutin setiap 3 minggu sekali agar nutrisi tanah terserap penuh oleh suweg tanpa kompetisi.

Proses penting lainnya adalah pembumbunan tanah yang dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada umur 2 bulan dan 4 bulan setelah muncul tunas. Pembumbunan dilakukan dengan menimbun tanah setinggi 10 hingga 15 centimeter di sekitar pangkal batang untuk melindungi umbi yang sedang membesar. Memasuki musim kemarau pada bulan Juni hingga Agustus, tanaman akan mengalami masa dormansi alami ditandai dengan batang yang menguning dan layu, yang menandakan umbi siap dipanen atau dibiarkan istirahat di dalam tanah.

Langkah-langkah

  1. Lakukan penyiangan gulma secara manual di sekitar piringan tanaman setiap 3 sampai 4 minggu sekali.
  2. Berikan pupuk susulan berupa pupuk organik padat sebanyak 3 sampai 5 kg per tanaman pada umur 2 bulan setelah tunas muncul.
  3. Lakukan pembumbunan tanah setinggi 10 sampai 15 cm mengelilingi pangkal batang pada bulan ke-2 dan ke-4 untuk merangsang pembesaran umbi.
  4. Jagalah kelembapan tanah pada musim kemarau jika tanaman belum memasuki masa dormansi penuh dengan penyiraman berkala 2 hari sekali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa lama umur tanaman suweg sampai siap dipanen?

Suweg dapat dipanen setelah berumur 7 hingga 9 bulan setelah tanam, ditandai dengan seluruh daun dan batang semu yang telah mengering sempurna.

Apakah suweg harus ditanam di tempat yang teduh?

Ya, suweg tumbuh sangat baik di tempat remang atau bernaungan 30 sampai 50 persen, seperti di bawah tegakan pohon buah atau jati.

Mengapa batang suweg milik saya layu dan roboh?

Robohnya batang suweg di akhir musim hujan adalah proses alami memasuki masa dormansi. Namun jika terjadi di awal pertumbuhan, bisa jadi karena pembusukan pangkal batang akibat tanah terlalu basah.

Bagaimana cara mencegah rasa gatal pada umbi suweg saat diolah?

Rasa gatal disebabkan kalsium oksalat. Untuk menguranginya, cuci bersih umbi dan rebus dengan sedikit garam atau air kapur sirih sebelum dikonsumsi.

Lebih lanjut tentang Suweg

Panduan terkait

Perawatan, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.