Penambahan nutrisi dilakukan dalam dua tahapan utama, yakni pemberian pupuk kandang matang sebanyak 1 hingga 2 kilogram per lubang tanam saat penyiangan pertama, diikuti pemupukan susulan pupuk hayati atau kompos kaya kalium saat usia tanaman memasuki 2 bulan (sekitar bulan Januari). Pemberian pupuk ini dianjurkan berjarak 10 cm dari batang utama agar akar tidak mengalami stagnasi atau terbakar. Kelembapan tanah harus dijaga pada tingkat 60 hingga 70 persen agar proses pembesaran katak (bulbil) dan umbi berjalan optimal.
Mengingat sebagian besar wilayah Indonesia memiliki intensitas hujan tinggi pada bulan Desember hingga Februari, bedengan harus dilengkapi dengan parit drainase sedalam 30 cm untuk mencegah genangan air yang memicu busuk batang. Apabila ditemukan pembusukan awal akibat jamur, pemangkasan bagian yang terserang serta penyemprotan agens hayati Trichoderma sp. dapat dilakukan sesuai anjuran teknis. Naungan alami sebesar 40 hingga 50 persen dari pohon pelindung seperti sengon atau jati sangat ideal untuk menjaga metabolisme tanaman porang dari sengatan matahari langsung.
Pada penghujung musim hujan di bulan April atau Mei, tanaman porang akan menampakkan daun yang mulai menguning dan batang yang rebah, mengindikasikan masuknya fase dormansi alami. Selama fase ini, hentikan pemupukan dan pengurangan penyiraman secara total agar energi terfokus penuh pada penyepuhan dan pengerasan umbi di dalam tanah. Katak atau bulbil yang terlepas secara alami dari tangkai daun dapat dipanen secara berkala setiap 3 hari sekali untuk dijadikan bibit berkualitas pada musim tanam berikutnya.