Panduan Pemupukan Hanjeli yang Tepat

Pemupukan hanjeli perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kondisi lahan untuk hasil optimal.

Jawaban singkat

Hanjeli (Coix lacryma-jobi) merupakan tanaman pangan tradisional yang mulai dilirik kembali karena kandungan gizinya tinggi. Agar produksi biji maksimal, pemupukan harus tepat dosis, jenis, dan waktu. Berikut panduan pemupukan hanjeli berdasarkan fase pertumbuhan di Indonesia.

Ringkas: Hanjeli

Cahaya
Sinar matahari penuh (6-8 jam sehari)
Penyiraman
Sedang, 1-2 kali seminggu saat kemarau
Musim
Sepanjang tahun
Tingkat Kesulitan
Mudah

Sangat cocok untuk pemanfaatan lahan kering atau pekarangan rumah.

Fase vegetatif (0–45 HST) membutuhkan nitrogen tinggi untuk pembentukan daun dan batang. Gunakan pupuk organik seperti kompos atau kandang sebanyak 2–3 ton/ha sebagai dasar. Susul dengan pupuk kimia urea 150–200 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha pada 7–10 HST. Aplikasi dilakukan dengan cara dilarik di samping barisan tanaman sedalam 5–7 cm.

Fase generatif (45–75 HST) adalah kritis untuk pembentukan malai dan biji. Kurangi nitrogen, tingkatkan fosfor dan kalium. Berikan pupuk susulan kedua berupa urea 100 kg/ha, SP-36 50 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha pada 30–35 HST. Jika tanah masam (pH < 5,5), tambah dolomit 500–1000 kg/ha saat olah tanah.

Pada musim hujan, sebagian pupuk bisa tercuci, sehingga dosis dinaikkan 10–20% atau aplikasi dipecah menjadi 3 kali. Untuk lahan kering, pemupukan cukup 2 kali. Selalu ikuti rekomendasi setempat dari BPP atau penyuluh pertanian karena kondisi tanah bervariasi antar daerah.

Langkah-langkah

  1. Lakukan analisis tanah sederhana (pH, C-organik) atau konsultasi ke BPP untuk menentukan kebutuhan pupuk dasar.
  2. Aplikasikan pupuk organik 2–3 ton/ha 2 minggu sebelum tanam, ratakan dan campur dengan tanah.
  3. Berikan pupuk pertama (N tinggi) pada 7–10 HST: urea 150–200 kg/ha + SP-36 100 kg/ha + KCl 100 kg/ha, dilarik di samping barisan.
  4. Berikan pupuk kedua (P dan K tinggi) pada 30–35 HST: urea 100 kg/ha + SP-36 50 kg/ha + KCl 100 kg/ha, dengan cara yang sama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa kali pemupukan hanjeli dalam satu musim?

Pemupukan hanjeli umumnya 2 kali: pertama saat vegetatif awal (7–10 HST) dan kedua saat awal generatif (30–35 HST). Pada lahan kurang subur bisa ditambah pupuk organik dasar.

Apakah hanjeli perlu pupuk kandang?

Ya, pupuk kandang atau kompos sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar 2–3 ton/ha untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan unsur mikro.

Kapan waktu terbaik memupuk hanjeli di musim hujan?

Pemupukan sebaiknya dilakukan saat tanah lembap tetapi tidak tergenang. Hindari pemupukan saat hujan deras karena pupuk mudah tercuci. Bisa dipecah menjadi 3 kali aplikasi dengan dosis lebih kecil.

Apa tanda kelebihan pupuk nitrogen pada hanjeli?

Daun hijau tua, batang lembek, pertumbuhan vegetatif berlebihan, tanaman mudah rebah, dan produksi biji menurun karena lebih banyak daun daripada malai.

Bisakah hanjeli ditanam tanpa pupuk kimia?

Bisa, asalkan menggunakan pupuk organik dalam jumlah cukup (5–10 ton/ha) dan ditambah pupuk hayati. Namun hasil biasanya lebih rendah dibanding pemupukan berimbang.

Apakah hanjeli perlu kapur dolomit?

Hanya jika pH tanah kurang dari 5,5. Dolomit diberikan saat olah tanah sebanyak 500–1000 kg/ha untuk menaikkan pH dan menyediakan kalsium serta magnesium.

Lebih lanjut tentang Hanjeli

Panduan terkait

Pemupukan, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.