Fase vegetatif pertama terjadi pada umur 1 hingga 2 bulan setelah tanam, biasanya bertepatan dengan puncak hujan di bulan Desember hingga Januari. Pada fase ini, tanaman membutuhkan asupan hara nitrogen dan fosfor yang cukup untuk pembentukan batang tunggal dan daun yang kokoh. Tambahkan pupuk organik susulan atau pupuk majemuk seimbang di sekeliling piringan tanaman sejauh 15 hingga 20 cm dari pangkal batang, kemudian tutup tipis dengan tanah. Dosis disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah setempat agar tidak menyebabkan penumpukan garam mineral yang berlebihan.
Memasuki bulan ke-3 hingga ke-5 setelah tanam, yaitu antara bulan Februari hingga April, suweg memasuki fase kritis pembesaran umbi atau akumulasi pati. Pada fase ini, peranan hara kalium sangat mendominasi untuk mengalirkan hasil fotosintesis dari daun menuju umbi di dalam tanah. Aplikasi pupuk suweg yang kaya unsur kalium dan fosfor dilakukan sebanyak satu kali pada pertengahan fase ini, diimbangi dengan tindakan pembumbunan tanah setinggi 10 hingga 15 cm untuk menjaga agar umbi tidak menyembul ke permukaan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
Saat memasuki akhir musim hujan sekitar bulan Mei atau Juni, tanaman suweg akan mulai menguning dan memasuki masa dormansi alami. Pada tahap ini, pemupukan harus dihentikan sepenuhnya karena aktivitas penyerapan hara oleh akar sudah berhenti total. Penyiraman atau genangan air berlebih di fase akhir ini justru berisiko memicu pembusukan umbi di dalam tanah. Dengan menjaga drainase lahan tetap lancar selama 6 hingga 8 bulan masa tanam, produksi umbi suweg dapat mencapai bobot optimal antara 3 hingga 8 kg per tanaman saat panen.