Penyebab utama yang sering ditemukan pada musim hujan adalah genangan air akibat drainase lahan yang tersumbat. Jelai sangat sensitif terhadap kelembapan tanah berlebih; perakaran yang terendam selama lebih dari 48 jam akan mengalami anoksia atau kekurangan oksigen, sehingga serapan hara nitrogen terhenti dan memicu menguningnya daun tua terlebih dahulu. Pada kondisi curah hujan tinggi di atas 250 mm per bulan, kelembapan mikro yang tinggi juga mempercepat perkembangan spora jamur penyebab bercak daun dan karat.
Sebaliknya, pada pemeliharaan di musim kemarau, kekeringan yang berkepanjangan atau defisiensi nitrogen akibat pemupukan dasar yang kurang berimbang menjadi pemicu utama. Pemberian pupuk nitrogen organik atau anorganik yang terlambat dari jadwal rutin minggu kedua dan kelima setelah tanam dapat membuat tajuk jelai tampak pucat kekuningan secara merata. Pengolahan tanah yang terlalu padat juga menghambat penyerapan unsur hara mikro seperti besi dan magnesium.
Untuk memulihkan pertanaman jelai, petani perlu melakukan pemantauan rutin setidaknya dua kali seminggu pada petakan seluas 500 meter persegi. Tindakan korektif harus difokuskan pada perbaikan saluran drainase selokan setinggi 30 cm, pemupukan susulan berimbang berdasarkan uji tanah, serta penyiangan gulma pesaing secara berkala. Pendekatan terpadu ini akan mengembalikan kesegaran daun jelai dalam waktu 7 hingga 14 hari pasca-perlakuan.