Pemupukan dasar dilakukan sebelum tanam dengan pupuk kandang atau kompos 10–15 ton/ha. Untuk lahan kurang subur, tambahkan 50–75 kg Urea/ha, 75–100 kg SP-36/ha, dan 50–75 kg KCl/ha. Aplikasi pupuk kimia sebaiknya diberikan setengah dosis saat tanam dan setengah sisanya 3–4 minggu setelah tanam (MST). Hindari pupuk N berlebih karena memicu pertumbuhan vegetatif berlebihan dan rebah.
Pemupukan susulan pada fase generatif (saat muncul bunga, sekitar 30–40 HST) dapat diberikan pupuk daun kaya P dan K, seperti MKP (Mono Kalium Fosfat) dengan konsentrasi 2–3 g/L, disemprotkan pada pagi atau sore hari. Jika tanah kekurangan unsur mikro (Zn, B, Mo), semprotkan pupuk mikro sesuai dosis anjuran setempat. Perhatikan gejala defisiensi: daun menguning (N), pertumbuhan kerdil (P), tepi daun hangus (K).
Pada lahan dengan drainase buruk atau musim hujan, kurangi dosis N dan tingkatkan K untuk mencegah serangan jamur akar. Lakukan pemupukan saat tanah lembab, bukan saat hujan deras. Untuk petani organik, gunakan pupuk kandang 15–20 ton/ha ditambah 2–3 ton/ha pupuk hijau (misal lamtoro). Konsultasikan dengan BPP setempat untuk rekomendasi spesifik berdasarkan hasil uji tanah.