Kutu daun (Aphis spp.) sering ditemukan pada pucuk dan daun muda, menyebabkan daun keriting dan pertumbuhan terhambat. Kehadiran semut di sekitar tanaman bisa menjadi indikasi serangan kutu daun karena semut memanfaatkan embun madu yang dikeluarkan kutu. Serangan berat terjadi pada musim kemarau. Pengendalian: semprot dengan air bertekanan kuat atau gunakan predator seperti kepik (Coccinellidae). Hindari insektisida spektrum luas yang membunuh musuh alami.
Ulat grayak (Spodoptera litura) menyerang daun pada malam hari, meninggalkan lubang tidak beraturan. Gejala awal berupa bercak transparan pada daun (skeletonisasi). Serangan parah dapat menggunduli tanaman dalam 2-3 hari. Pengendalian: aplikasi Bacillus thuringiensis (Bt) pada sore hari, atau perangkap feromon untuk memonitor populasi ngengat. Lakukan penyiangan gulma inang seperti bayam liar.
Penggerek batang (Ostrinia spp.) jarang namun berbahaya. Larva menggerek batang menyebabkan tanaman layu dan mati mendadak. Ciri: lubang kecil pada batang dan serbuk gerek (frass) di sekitar lubang. Pengendalian: potong dan musnahkan batang terserang, tanam varietas tahan jika tersedia, dan lakukan rotasi dengan tanaman bukan inang seperti jagung atau kacang-kacangan selama minimal 2 musim.