Memasuki fase berbunga dan berbuah atau fase generatif yang biasanya dimulai saat tanaman berumur 4 tahun ke atas, kebutuhan nutrisi tanaman bergeser menjadi lebih tinggi pada unsur kalium dan kalsium guna memperkuat bunga dan mencegah kerontokan buah. Frekuensi pemupukan pada fase produktif ini dilakukan setiap 4 bulan sekali dengan menaburkan pupuk di sekitar parit melingkar di bawah proyeksi tajuk daun, bukan tepat di batang utama. Dosis pupuk kimia disesuaikan dengan umur dan ukuran lingkar batang pohon, serta selalu diiringi dengan penyiraman yang cukup jika pemupukan dilakukan di penghujung musim kemarau.
Kondisi iklim tropis Indonesia yang memiliki dua musim yang kontras menuntut ketepatan waktu dalam aplikasi pupuk agar tidak terbuang sia-sia akibat erosi air hujan. Pada puncak musim hujan, pastikan saluran drainase di sekitar kebun salak berfungsi dengan baik agar genangan air tidak mencuci nutrisi pupuk yang baru saja ditebarkan, sekaligus mencegah kebusukan akar. Sebaliknya, pada musim kemarau, pemupukan wajib diikuti dengan penyiraman intensif sebanyak 20 hingga 30 liter air per pohon setiap sore hari untuk membantu proses pelarutan unsur hara agar dapat diserap optimal oleh rambut akar.
Selain jenis dan waktu aplikasi, teknik pembenaman pupuk juga memegang peranan krusial dalam keberhasilan budidaya salak yang memiliki sistem perakaran serabut yang relatif dangkal. Buatlah lubang atau parit kecil melingkar mengikuti lebar tajuk pohon dengan kedalaman sekitar 10 hingga 15 centimeter, masukkan pupuk, lalu tutup kembali dengan tanah galian untuk menghindari penguapan unsur hara. Dengan menerapkan pola pemupukan yang disiplin, tepat dosis, dan tepat cara ini, pohon salak di pekarangan maupun perkebunan rakyat akan mampu berproduksi secara berkelanjutan dengan kualitas buah yang prima.