Namun, gejala layu pada salak tidak selalu disebabkan oleh kurangnya air saja. Serangan patogen tular tanah seperti jamur Fusarium atau bakteri Pseudomonas juga sering kali mengincar tanaman yang sedang mengalami cekaman kekeringan. Patogen ini masuk melalui luka pada akar akibat pengolahan tanah yang terlalu dekat atau karena gigitan hama perusak akar, lalu menyumbat jaringan pembuluh xilem sehingga daun dan pelepah daun mendadak terkulai.
Untuk mendiagnosis secara akurat, kita perlu memeriksa kondisi tanah di sekitar perakaran dan pola kelayuan daunnya. Jika layu terjadi secara merata pada seluruh tajuk tanaman dan tanah sangat kering berdebu, maka faktor iklim kemarau adalah penyebab utamanya. Sebaliknya, jika layu terjadi hanya pada satu sisi rumpun atau disertai pembusukan pangkal batang, maka kita harus mewaspadai infeksi penyakit tular tanah yang membutuhkan penanganan lebih intensif.
Sebagai langkah antisipasi di musim kemarau, pekebun dianjurkan untuk menerapkan mulsa organik tebal dari jerami atau pelepah salak kering di bawah kanopi tanaman seluas minimal 1,5 meter dari batang utama. Mulsa ini berfungsi menekan penguapan air tanah secara signifikan dan menjaga suhu mikro tetap sejuk bagi perakaran dangkal salak, sehingga tanaman tetap tegar menghadapi puncak musim kemarau.