Untuk mendiagnosis masalah ini dengan akurat, kita harus memeriksa bagian bawah helaian daun muda serta kondisi kelembapan tanah di sekitar perakaran salak. Pada musim kemarau, penurunan curah hujan drastis membuat populasi hama mikro meningkat pesat karena siklus hidup mereka menjadi lebih pendek. Selain itu, kurangnya pasokan air irigasi sebanyak dua hingga tiga kali seminggu menyebabkan jaringan daun muda tumbuh tidak sempurna, sehingga tampak melengkung dan mengkerut.
Penanganan daun salak keriting harus dilakukan secara terpadu dengan memadukan perbaikan teknik budidaya dan pengendalian hama berbasis prinsip ambang ekonomi. Pemangkasan daun yang terserang berat harus segera dilakukan untuk memutus siklus hidup hama sekaligus mengurangi penguapan air dari tanaman. Di samping itu, pengaplikasian mulia organik dari jerami atau pelepah salak kering setebal 10 sentimeter di sekitar pangkal batang terbukti efektif menjaga kelembapan tanah selama puncak musim kemarau.
Penyuluhan pertanian di berbagai daerah sentra salak menyarankan agar pekebun senantiasa memantau kesehatan kebun secara rutin minimal seminggu sekali. Jika ditemukan gejala keriting yang meluas dan tidak membaik setelah perbaikan penyiraman, segera konsultasikan dengan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan di Balai Penyuluhan Pertanian terdekat. Langkah preventif yang konsisten akan memastikan tanaman salak tetap produktif menghasilkan buah berkualitas tinggi meskipun dihadapkan pada cuaca kemarau yang ekstrem.