Selain faktor penyiraman dan curah hujan, ketidakseimbangan nutrisi tanah menjadi penyebab utama klorosis pada daun matoa. Pada kondisi tanah masam dengan pH di bawah 5,5, penyerapan unsur hara makro seperti Nitrogen (N) serta hara mikro seperti Besi (Fe) dan Magnesium (Mg) menjadi terhambat. Hal ini ditandai dengan perubahan warna daun muda menjadi kuning pucat, sementara tulang daun masih mempertahankan warna hijau.
Dari sisi organisme pengganggu tanaman, serangan hama pengisap seperti kutu daun dan tungau sering melonjak pada musim kemarau saat suhu udara bertahan di atas 32 derajat Celsius. Hama ini merusak jaringan epidermis daun dan menyedot cairan sel, meninggalkan noda kuning berbercak yang lambat laun meluas. Kotoran lengket dari hama ini juga mengundang jamur embun jelut yang semakin mengganggu proses fotosintesis pohon.
Langkah pemulihan pohon matoa yang daunnya menguning memerlukan tindakan terpadu secara konsisten. Petani disarankan membuat parit drainase selokan melingkar setinggi 30 cm di luar piringan tajuk, serta memberikan 10 sampai 15 kg kompos matang per pohon setiap empat bulan sekali. Pemberian bahan organik ini secara teratur akan memperbaiki struktur tanah, mengembalikan pH ideal, dan memicu pertumbuhan akar baru yang sehat.