Kondisi tanah yang terlalu basah dan memadat dapat merusak perakaran gandaria, sehingga tanaman tidak mampu menyerap hara secara optimal. Sebaliknya, saat musim kemarau panjang, frekuensi penyiraman yang kurang dari dua kali seminggu membuat tanaman tertekan dan merontokkan daunnya diawali dengan perubahan warna menjadi kuning. Pohon gandaria membutuhkan tanah gembur berkadar bahan organik tinggi dengan pH ideal antara 5,5 hingga 6,5.
Defisiensi hara mikro seperti besi dan magnesium serta hara makro nitrogen juga menjadi penyebab umum klorosis pada daun gandaria. Pemberian pupuk kandang matang sebanyak 10 hingga 15 kg per pohon yang rutin diaplikasikan dua kali seminggu menjelang pergantian musim sangat membantu menjaga ketersediaan nutrisi. Pemupukan organik ini memperkuat struktur tanah sehingga perakaran dapat berkembang lebih sehat.
Selain faktor penyiraman dan hara, serangan hama pengisap cairan daun seperti kutu sisik sering kali mengintai di balik permukaan daun gandaria. Pemantauan rutin setiap 7 hingga 10 hari sekali sangat dianjurkan untuk mendeteksi serangan sejak dini. Pemangkasan tajuk agar sinar matahari dapat masuk sebanyak 70 hingga 80 persen akan menciptakan kelembapan mikro yang tidak disukai oleh hama dan jamur.