Penyiraman dilakukan 2–3 kali sehari saat musim kemarau (pagi dan sore), dan 1 kali sehari saat musim hujan (jika tidak hujan). Jangan sampai tergenang karena umbi mudah busuk. Pemupukan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan pupuk NPK 16-16-16 sebanyak 5–10 gram per tanaman (setara 1 sendok teh). Saat memasuki fase pembungaan (umur 2–3 bulan), tambahkan pupuk dengan kandungan fosfor (P) tinggi, seperti NPK 10-30-10 atau TSP, untuk merangsang pembentukan bunga.
Pemangkasan dilakukan setelah bunga layu dengan memotong tangkai bunga hingga pangkal. Daun yang menguning atau rusak juga dipotong untuk mengurangi risiko penyakit. Untuk merangsang anakan, setelah panen bunga, biarkan daun tetap hijau selama 1–2 bulan agar umbi membesar. Setelah itu, daun bisa dipotong dan umbi diistirahatkan selama 1–2 bulan sebelum ditanam kembali. Di Indonesia, umbi bisa dibiarkan di dalam tanah sepanjang tahun asal drainase baik.
Hama yang sering menyerang adalah ulat daun (Spodoptera litura) dan kutu daun (Aphis gossypii). Untuk ulat, kumpulkan dan musnahkan secara manual, atau semprot dengan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba (1 kg daun mimba direbus dalam 5 liter air, dinginkan, saring, semprotkan setiap 3 hari). Kutu daun bisa dikendalikan dengan semprotan air sabun (1 sendok sabun cair dilarutkan dalam 1 liter air). Penyakit utama adalah busuk umbi akibat jamur (Fusarium sp.) yang disebabkan drainase buruk. Cegah dengan menanam di bedengan tinggi dan tidak menyiram berlebihan.