Frekuensi penyiraman yang tidak tepat juga menjadi pemicu utama klorosis pada tanaman hias ini. Pada suhu udara tinggi saat kemarau, banyak pekebun terdorong menyiram tanaman secara berlebihan hingga 2 kali sehari, padahal media tanam yang terlalu basah dan menggenang justru merusak perakaran. Idealnya, penyiraman dilakukan 2 hingga 3 hari sekali setelah mengecek kelembapan media pada kedalaman 3 cm.
Defisiensi unsur hara makro seperti nitrogen dan magnesium sering terjadi jika tanaman tidak mendapat pemupukan berkala selama 1 hingga 2 bulan. Tanaman yang kekurangan nutrisi akan memindahkan sisa energi dari daun tua ke daun muda, sehingga daun bagian bawah berubah warna menjadi kuning pucat secara bertahap.
Selain faktor lingkungan dan nutrisi, kelembapan udara yang rendah di musim kemarau memicu perkembangan hama seperti tungau laba-laba dan kutu perisai. Hama ini mengisap cairan sel daun secara berkelompok, meninggalkan bintik-bintik kuning kecil yang lambat laun menyebar ke seluruh helaian daun Gelombang Cinta.