Penurunan ketersediaan hara, khususnya unsur nitrogen dan zat besi dalam media tanam basah, juga menjadi pemicu utama timbulnya klorosis pada selada air. Pengurasan atau penggantian air bersirkulasi sebanyak 30 persen setiap 5 sampai 7 hari sekali sangat penting untuk menjaga ketersediaan nutrisi terlarut. Air yang menggenang tanpa sirkulasi memicu pengendapan bahan organik yang membusuk dan merusak akar halus selada air.
Di musim kemarau yang kering, kelembapan udara mikro di sekitar tanaman menurun sehingga memicu lonjakan populasi hama pengisap seperti trips dan kutu daun. Lakukan pemeriksaan rutin 2 kali seminggu pada bagian bawah permukaan daun. Serangan hama ini ditandai dengan bintik-bintik kuning yang lambat laun meluas hingga seluruh helai daun mengering dan memutih.
Pemasangan jaring naungan atau paranet dengan intensitas peneduh 40 hingga 50 persen di atas areal pertanaman terbukti mampu menurunkan suhu lingkungan hingga 3 sampai 4 derajat Celsius. Kombinasi naungan yang tepat dan pengaturan debit air minimal 2 liter per menit per meter persegi akan mengembalikan kesegaran serta warna hijau alami daun selada air dalam waktu 10 hingga 14 hari.