Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu pada pagi hari pukul 07.00 hingga 09.00 sangat krusial untuk mendeteksi keberadaan larva penggerek daun atau ulat grayak. Kerusakan pada 10 persen populasi tanaman selada air dapat menurunkan nilai jual secara drastis karena konsumen menginginkan daun yang mulus dan bebas dari bekas gigitan.
Pada musim hujan, genangan air yang tenang dan sirkulasi lambat memicu peningkatan serangan keong mas dan siput telanjang yang menggerogoti batang muda. Pengaturan debit air masuk sebesar 5 sampai 10 liter per menit pada bedengan akuatik terbukti efektif mengurangi mengendapnya hama moluska tersebut secara alami.
Penerapan sanitasi lahan setiap 14 hari sekali dengan membersihkan gulma di sekitar pematang kolam dapat memutus siklus hidup hama selada air secara berkelanjutan. Kombinasi intervensi fisik, hayati, dan pemantauan harian menjadi kunci utama kelangsungan budidaya selada air yang produktif.