Penyebab pertama yang paling sering dijumpai adalah dehidrasi atau stres lingkungan akibat udara kumbung yang terlalu kering. Ketika evaporasi berlangsung sangat cepat, sel-sel pada tepi tudung jamur akan kehilangan cairan secara masif sehingga jaringan luar mati dan berubah warna menjadi kuning keokelatan. Hal ini biasa terjadi jika frekuensi pengkabutan tidak ditingkatkan untuk mengimbangi teriknya cuaca kemarau.
Penyebab kedua adalah serangan bakteri pembusuk seperti Pseudomonas tolaasii yang berkembang subur saat penyiraman dilakukan secara berlebihan tanpa sirkulasi udara yang memadai. Banyak petani menyiram tubuh buah secara langsung dengan gelembung air besar untuk mengejar kelembapan saat panas. Air yang menggenang di atas permukaan tudung jamur justru menjadi media tumbuh sempurna bagi bakteri, memicu gejala kuning lengket dan berbau busuk.
Untuk mengatasi masalah ini, pembudi daya perlu mengatur ulang manajemen mikro di dalam kumbung jamur. Penyesuaian jadwal penyemprotan menjadi 3 hingga 4 kali sehari menggunakan nozel kabut halus, menjaga kebersihan lantai kumbung, serta mengatur ventilasi udara pada pagi dan sore hari terbukti ampuh mengembalikan kualitas tudung jamur tiram tetap segar dan putih bersih.