Pada fase awal tanam (0–30 HST), gunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang matang sebanyak 5–10 ton/ha atau setara 1–2 kg/m2 untuk bedengan. Campurkan pupuk dasar ini 1–2 minggu sebelum tanam. Jika menggunakan pupuk kimia, berikan NPK 16-16-16 dengan dosis 100–150 kg/ha, diaplikasikan saat tanam atau 7 HST. Hindari pupuk nitrogen tinggi (urea) berlebihan karena menyebabkan daun lemas dan mudah terserang penyakit.
Pemupukan susulan dilakukan setiap 2–3 minggu setelah tanam. Untuk pegagan daun (panen daun), fokus pada pupuk nitrogen dan kalium. Larutkan 5–10 gram NPK 16-16-16 per liter air, siramkan 200–300 ml per tanaman atau 5 liter per m2. Pada musim kemarau, kurangi dosis 20–30% karena risiko salinitas. Alternatif organik: siram air fermentasi (MOL) atau pupuk kandang cair 1:10, berikan 500 ml per m2 setiap minggu.
Pemupukan daun juga efektif. Semprotkan pupuk daun dengan kandungan N tinggi (misal 30-10-10) setiap 10–14 hari pada pagi atau sore hari, konsentrasi 2–3 gram/liter. Hentikan pemupukan 1 minggu sebelum panen. Untuk panen berkelanjutan, setelah panen pertama beri pupuk NPK 15-15-15 dosis 50–75 kg/ha untuk merangsang tunas baru. Perhatikan pH tanah ideal 5.5–6.5; lakukan pengapuran jika pH <5.5 dengan dolomit 1–2 ton/ha setahun sekali.