Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum yang menyerang pembuluh angkut tanaman. Gejala awal berupa daun menguning dan layu pada siang hari, lalu pulih saat sore. Pada stadium lanjut, batang dan rimpang menjadi busuk basah berwarna coklat kehitaman, dan jika dipotong akan keluar lendir bakteri. Penyakit ini menyebar melalui air, tanah, dan alat pertanian yang terkontaminasi. Bercak daun disebabkan oleh jamur Colletotrichum, ditandai bercak kecil coklat kehitaman pada daun yang melebar menjadi oval dengan tepi kuning. Pada kelembaban tinggi, muncul titik-titik hitam (konidia) di tengah bercak. Daun yang terserang parah akan mengering dan gugur.
Pengendalian layu bakteri dilakukan dengan rotasi tanaman non-solanaceae minimal 2 tahun, penggunaan bibit sehat dari rimpang yang tidak terinfeksi, serta perbaikan drainase lahan. Untuk bercak daun, lakukan sanitasi dengan memotong dan membakar daun yang sakit, serta atur jarak tanam 30x30 cm agar sirkulasi udara baik. Pada musim hujan, hindari genangan air dengan membuat bedengan setinggi 20-30 cm. Gunakan fungisida berbahan aktif tembaga atau mankozeb sesuai dosis anjuran pada label, dengan interval penyemprotan 7-10 hari jika gejala muncul. Selalu konsultasikan penggunaan pestisida dengan penyuluh pertanian setempat.
Pencegahan lebih baik dengan memilih rimpang bibit yang sehat, bebas luka, dan telah disimpan selama 1-2 minggu sebelum tanam. Rendam rimpang dalam larutan fungisida atau bakteri alami seperti ekstrak bawang putih (10% konsentrasi) selama 15 menit sebelum tanam. Gunakan mulsa jerami untuk menekan percikan air tanah yang membawa patogen. Lakukan pengamatan rutin setiap minggu, terutama di awal musim hujan. Jika serangan sudah parah, cabut tanaman sakit beserta tanahnya dan bakar, lalu beri kapur pertanian pada lubang tanam.