Penggerek rimpang menyerang saat rimpang mulai membesar, biasanya pada umur 3-5 bulan setelah tanam. Ciri serangan: daun menguning, layu, dan mudah dicabut. Pada rimpang terdapat lubang gerekan dan kotoran hitam. Kutu daun menyerang daun muda di musim kemarau, menyebabkan daun keriting, menguning, dan pertumbuhan terhambat. Kedua hama ini aktif sepanjang tahun di Indonesia, namun puncak serangan penggerek rimpang terjadi saat musim hujan karena kelembaban tanah tinggi.
Pengendalian hama bangle harus dilakukan secara terpadu. Untuk penggerek rimpang, lakukan pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman bukan jahe-jahean minimal 2 tahun, gunakan bibit sehat dari rimpang utuh, dan saat tanam taburkan nematoda entomopatogen (Steinernema sp.) di lubang tanam. Untuk kutu daun, semprot dengan larutan daun mimba (1 kg daun mimba direbus dalam 10 liter air, dinginkan, saring, semprot setiap 5-7 hari) atau gunakan musuh alami seperti kumbang koksi (Coccinella sp.).
Jika serangan sudah parah, segera cabut dan musnahkan tanaman terserang dengan cara dibakar atau dikubur dalam. Jangan menggunakan pestisida kimia sembarangan karena dapat merusak musuh alami. Konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi pestisida yang tepat dan aman. Lakukan pengamatan rutin setiap minggu, terutama saat musim hujan.