Penyebab non-alami yang paling sering terjadi adalah infeksi bakteri layu atau jamur pembusuk rimpang yang terpicu oleh drainase buruk saat peralihan musim. Penyiraman yang terlalu berlebihan di lahan seluas 100 meter persegi tanpa parit drainase setinggi 30 centimeter akan membuat akar tergenang dan membusuk. Akibatnya, penyerapan unsur hara mikro seperti besi dan magnesium terhenti total, memicu klorosis pada helaian daun.
Selain faktor penyakit tanah, serangan hama pengisap cairan seperti kutu daun dan tungau merah juga menjadi pemicu utama di musim kemarau panjang. Populasinya dapat meningkat hingga tiga kali lipat saat kelembapan udara turun di bawah 60 persen. Bekas tusukan hama ini meninggalkan bercak kuning kecil yang kemudian menyatu hingga seluruh permukaan daun mengering dan gugur sebelum waktunya.
Untuk membedakan proses menguning alami dan serangan penyakit, lakukan pemeriksaan rutin setiap 3 hari sekali pada perakaran dan permukaan bawah daun. Jika rimpang terasa lunak atau berbau busuk saat digali setebal 10 centimeter, segera lakukan tindakan sanitasi lahan. Penanganan yang cepat dan tepat akan menyelamatkan bobot rimpang temulawak hingga 80 persen dari risiko gagal panen total.